Cerita Realita,||
Kali ini cerita berlanjut dari Pak Boss, bukan terkait pencalonan atau pun mengenai visi dan misi (sebab masih dalam tahap seleksi berkas....,he...he...).
Bermula dari cerita maraknya kasus perceraian pasutri di salah satu kabupaten di Jawa Timur, Pak Boss sangat memperhatikan dan berucap"kok Yo ne opo rabi kui ra dipikir disik", mboso wes mlaku Agi pirang ketigo wes njalok pisah...., wes angel²....Yo Bro...,ucap Pak Boss.
Tapi, "itukan haknya pasangan masing-masing tho Pak Boss, wong juga negara mengijinkan", balasku.
"Pie tho Bro, awakmu kok ra teko lekmu mikir.Apa tidak pernah memikirkan empat perkara dalam mengarungi bahtera rumah tangga,"ucap Pak Boss dengan menghela napas panjang.
Kalau Lima perkara ini dijadikan pedoman pastinya semua akan baik-baik. Meskipun kondisi perekonomian keluarga juga mengalami masa-masa yang sulit. LIMA perkara ini sampai sekarang masih bisa untuk diterapkan, ini dari pitutur pinisepuh.
Empat perkara ini yaitu :
1. NGACENG MENGKERET
2. MLEBU METU
3. MLUMAH MENGKUREP
4. MEREM MELEK
5. MANTHUK-MANTHUK
"Waduh kok begitu, tho Pak Boss", ucapku. Sambil terkekeh Pak Boss menjelaskan, "pikiran manusia yang kadang sudah kotor yang tidak paham, pikirannya pasti kesitu, lha iyo tho"kata Pak Boss.
Begini untuk yang pertama NGACENG MENGKERET itu maksudnya apabila istri dalam keadaan 'kenceng'emosi sang suami harus diam. Jangan dilayani dengan emosi juga,"suami harus MENGKERET atau Kendo mengendalikan emosi juga,"terang Pak Boss. "Begini tho Pak Boss, terlanjur pikiran saya yang lain....,kataku.
Sambil nyeruput wedang kopi dan nyalakan rokok linting, Setelahnya Pak Boss melanjutkan MLEBU METU itu maksudnya, pasangan suami istri juga harus bisa menerima dan memberi masukan dan saling menasehati.
"Untuk MLUMAH MENGKUREP, Nopo Pak Boss? "Tanyaku penuh Kepo. Sabar tho Bro, tak ngombe kopi disik,"jawab Pak Boss.
MLUMAH iku ketok ngareppe, MENGKUREP ketok mburine, maksudnya suami istri itu harus selalu terbuka baik masalah ekonomi, hubungan sosial, komunikasi dan serta masalah lainnya.Harus jujur dan tidak boleh ada yang disembunyikan serta tidak boleh ada kebohongan. Karena kebohongan adalah awal dan menjadi residu kehancuran sebuah hubungan." Kudu Bloko Suto", terang Pak Boss.
Pak Boss melanjutkan, MEREM artinya seorang suami harus bisa menutup aib atau kekurangan dari istri begitupun sebaliknya, seorang istri juga harus bisa menutup kekurangan dari suaminya dan jangan sampai di ceritakan kepada orang lain, dan diungkit-ungkit terus.
MELEK itu maksudnya, harus mengakui dan menghargai serta mengapresiasi kebaikan apa yang sudah dilakukan oleh istri maupun suami. Umumnya manusia karena kejelekan atau satu kesalahan saja pastinya manusia akan melupakan kebaikan selama yang diberikan kepada kita.
"Kalau empat perkara tadi bisa dilakukan tentunya.Untuk yang kelima MANTHUK-MANTHUK itu membuktikan atau menandakan bahwa sudah bahagia tentram rukun dan harmonis,"tukas Pak Boss.
Itulah Pak Boss, sosok tokoh di desaku yang setiap ada cerita tak lepas dari filosofi. Menutup pembicaraan kali ini kami tetap setia dengan rokok linting dan wedang kopi hitam dengan ditemani hawa dingin Lereng Gunung Kelud.
(*)
#Rahayu Sagung Dumadi
